Tren minum kopi di kota-kota besar terus berkembang karena konsumen mulai menghargai cita rasa otentik.
Dulu kopi dianggap sekadar teman begadang, kini minum kopi jadi bagian dari identitas.
Komunitas urban menggunakan kopi untuk memperlambat ritme hidup yang sibuk.
Salah satu perubahan besar di dunia kopi adalah pertumbuhan “slow bar”.
Alih-alih mengejar skala besar, kedai mikro justru menonjolkan interaksi personal.
Kopi disajikan dengan pendekatan yang hampir seperti seni.
Biji kopi dari berbagai daerah seperti Sumatera dan Sulawesi menguasai menu kedai specialty.
“Kami ingin orang tahu bahwa kopi Indonesia tak kalah dengan luar negeri,” terang barista sekaligus pemilik kedai mikro di Bandung.
Menurut Asosiasi Kopi Indonesia (AEKI), pertumbuhan kedai mikro naik dua kali lipat dibanding 2024.
Pembeli mulai menilai kopi seperti menilai anggur — ada rasa, aroma, dan cerita.
Tidak hanya urusan aroma dan teknik seduh, kedai mikro juga menonjolkan pengalaman visual dan atmosfer.
Beberapa menjual merchandise seperti kopi sangrai dan alat seduh.
Gerakan “minum kopi lokal” meluas ke daerah-daerah kecil.
Kegiatan edukasi dan kolaborasi dengan petani kopi menjadi wadah koneksi antara penikmat dan penghasil kopi.
Dengan dukungan generasi muda, kopi Indonesia tak hanya soal rasa.
Secangkir kopi bisa menyatukan banyak cerita, dan Coffee Culture 2025 membuktikan bahwa aroma terbaik lahir dari tangan dan tanah sendiri.